Pertolongan pertama pada keracunan dan paparan bahan kimia dimulai dengan melindungi diri, menjauhkan korban dari sumber paparan, lalu mengurangi bahan yang menempel atau masuk ke tubuh: udara segar untuk yang terhirup, bilasan air mengalir untuk kulit dan mata. Jangan merangsang muntah. Segera panggil bantuan medis dan bawa Lembar Data Keselamatan (SDS). Bagi tempat kerja yang memakai bahan kimia, materi ini adalah bagian wajib pelatihan first aid.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan langsung, petunjuk SDS, maupun nasihat medis. Dalam keadaan darurat, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.

Bagaimana bahan kimia masuk ke tubuh?

Jalur Contoh di tempat kerja
Terhirup Uap pelarut, gas klorin, amonia, karbon monoksida, asap las
Kontak kulit Percikan asam atau basa, pelarut, pestisida
Kontak mata Percikan cairan, debu kimia
Tertelan Bahan kimia dalam botol minum tanpa label, makan dengan tangan terkontaminasi
Suntikan atau tusukan Tertusuk benda tajam terkontaminasi, injeksi cairan bertekanan tinggi

Jalur masuk menentukan tindakan. Bahan yang sama dapat memerlukan penanganan berbeda tergantung jalurnya.

Apa tanda-tanda keracunan?

Gejalanya beragam, antara lain:

  • pusing, sakit kepala, bingung, mengantuk;
  • mual, muntah, nyeri perut;
  • batuk, sesak, rasa terbakar di tenggorokan;
  • mata perih, berair, pandangan kabur;
  • kulit merah, nyeri, melepuh;
  • luka bakar di sekitar mulut bila tertelan bahan korosif;
  • kejang atau tidak sadar.

Curigai keracunan bila beberapa orang di area yang sama mengalami gejala serupa, tercium bau tidak biasa, atau ada wadah bahan kimia yang terbuka atau tumpah.

Apa prinsip umum pertolongannya?

  1. Keselamatan penolong lebih dulu. Jangan masuk ke area berisi gas atau uap tanpa alat pelindung pernapasan yang sesuai. Banyak kejadian fatal menimpa penolong yang masuk tanpa perlindungan.
  2. Hentikan paparan. Pindahkan korban ke tempat aman bila dapat dilakukan tanpa membahayakan diri.
  3. Panggil bantuan medis dan tim tanggap darurat perusahaan.
  4. Nilai korban sesuai langkah DRSABC. Mulai RJP bila tidak bernapas normal. Hindari napas bantuan mulut ke mulut tanpa alat pelindung bila korban terpapar bahan beracun.
  5. Kenali bahannya. Catat nama dari label atau ambil SDS, lalu ikuti bagian tindakan pertolongan pertama.
  6. Dekontaminasi sesuai jalur paparan.
  7. Rujuk dan sertakan informasi bahan.

Bagaimana bila bahan kimia terhirup?

  1. Pastikan Anda aman. Di ruang terbatas atau area dengan gas, gunakan alat bantu pernapasan atau tunggu tim penyelamat.
  2. Pindahkan korban ke udara segar.
  3. Longgarkan pakaian di leher dan dada.
  4. Posisikan duduk bersandar bila sadar dan sesak; posisi miring bila tidak sadar tetapi bernapas.
  5. Mulai RJP bila tidak bernapas normal.
  6. Semua korban yang sempat sesak, pingsan, atau terpapar gas beracun perlu diperiksa, karena beberapa gas menimbulkan gangguan paru yang muncul terlambat.

Bagaimana bila terkena kulit?

  1. Kenakan sarung tangan dan pelindung lain yang sesuai.
  2. Bahan berbentuk bubuk disikat dulu dari kulit dengan hati-hati bila aman.
  3. Bilas dengan air mengalir dalam jumlah banyak selama sedikitnya 15 sampai 20 menit. Gunakan shower darurat bila tersedia.
  4. Lepas pakaian, sepatu, jam tangan, dan perhiasan yang terkontaminasi sambil terus membilas.
  5. Arahkan air agar tidak mengalir ke bagian tubuh yang bersih.
  6. Jangan menggosok kulit dan jangan memakai bahan penetral.
  7. Tutup longgar dengan kasa steril dan rujuk.

Beberapa bahan memiliki penanganan khusus, misalnya asam fluorida. Tempat kerja yang menggunakannya harus menyediakan perlengkapan khusus dan melatih pekerjanya sesuai SDS.

Bagaimana bila terkena mata?

  1. Segera bilas dengan air mengalir bersuhu sejuk atau pembilas mata darurat.
  2. Buka kelopak mata dengan jari yang bersih. Minta korban menggerakkan bola mata ke segala arah.
  3. Alirkan air dari sisi hidung ke arah luar agar tidak mengenai mata yang lain.
  4. Lanjutkan sedikitnya 15 sampai 20 menit, lebih lama untuk bahan korosif.
  5. Lepas lensa kontak bila mudah dilepas saat membilas.
  6. Jangan menggosok mata dan jangan meneteskan obat apa pun.
  7. Rujuk segera, sambil terus membilas bila memungkinkan.

Setiap detik penundaan berarti kerusakan lebih dalam. Karena itu pembilas mata harus berada dekat titik risiko dan jalurnya tidak boleh terhalang.

Bagaimana bila tertelan?

  1. Jangan merangsang muntah.
  2. Jangan memberi makan atau minum kecuali atas arahan tenaga medis atau petunjuk SDS.
  3. Bila korban sadar, minta ia berkumur dan membuang airnya, lalu lap sekitar mulut.
  4. Simpan wadah, label, atau sisa bahan untuk ditunjukkan kepada tenaga medis.
  5. Bila korban muntah sendiri, miringkan agar tidak tersedak.
  6. Pantau napas dan kesadaran sampai bantuan tiba.

Jangan memberi apa pun lewat mulut kepada korban yang tidak sadar, mengantuk, atau kejang.

Mengapa SDS penting?

Lembar Data Keselamatan memuat identitas bahan, bahayanya, tindakan pertolongan pertama, alat pelindung yang diperlukan, dan cara menangani tumpahan. Agar berguna saat darurat:

  • simpan SDS setiap bahan di tempat yang mudah diakses pekerja dan petugas P3K;
  • pastikan semua wadah berlabel, termasuk wadah pindahan;
  • latih pekerja membaca bagian pertolongan pertama pada SDS;
  • sertakan SDS saat merujuk korban.

Apa yang tidak boleh dilakukan?

  • Masuk ke area bergas tanpa alat pelindung pernapasan.
  • Merangsang muntah.
  • Memberi susu, air kelapa, minyak, atau ramuan sebagai penawar.
  • Menetralkan asam dengan basa atau sebaliknya pada kulit atau mata.
  • Menunda pembilasan untuk mencari penawar.
  • Membilas sebentar saja karena korban merasa sudah baikan.
  • Menyimpan bahan kimia dalam botol bekas minuman.

Fasilitas apa yang perlu disiapkan?

Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 menyebut fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri dan peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya bersifat khusus. Untuk area bahan kimia, lazimnya meliputi:

Latihan sesuai bahan yang dipakai

Tidak ada pelatihan umum yang dapat membahas semua bahan kimia. Cara paling efektif adalah berlatih dengan daftar bahan yang benar-benar ada di lokasi, memakai pembilas mata dan shower yang terpasang, serta alur komunikasi perusahaan. Format ini tersedia melalui in-house training first aid. Penanganan luka bakar kimia juga dibahas di artikel pertolongan pertama pada luka bakar. Penanggulangan keracunan pada manusia di luar bahan kimia industri, seperti makanan, obat, dan gas karbon monoksida, dibahas di artikel penanganan keracunan makanan, obat, dan gas.

Referensi

  • Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja
  • UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
  • International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines (IFRC)
  • Pedoman pertolongan pertama dari American Heart Association dan American Red Cross
  • Sistem Harmonisasi Global (GHS) tentang klasifikasi dan label bahan kimia serta Lembar Data Keselamatan