Penanganan gigitan hewan berbisa oleh penolong pertama berpusat pada tiga hal: menjauhkan korban dari hewan, membuat bagian tubuh yang digigit tidak bergerak (imobilisasi), dan membawa korban secepatnya ke fasilitas kesehatan. Untuk gigitan ular, jangan menyayat, mengisap, atau mengikat kuat anggota tubuh. Penawar bisa hanya diberikan tenaga medis, sehingga waktu sampai ke rumah sakit adalah faktor terpenting.
Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan langsung maupun nasihat medis. Dalam keadaan darurat, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.
Hewan berbisa apa yang sering ditemui di lokasi kerja?
Risikonya paling besar di perkebunan, kehutanan, pertambangan, proyek konstruksi di lahan terbuka, gudang, dan area penumpukan material.
| Hewan | Tempat yang sering | Bahaya utama |
|---|---|---|
| Ular berbisa | Semak, tumpukan kayu, saluran, gudang | Gangguan saraf, perdarahan, kerusakan jaringan |
| Kalajengking | Bawah batu, sepatu, tumpukan material | Nyeri hebat; reaksi berat pada sebagian orang |
| Lipan | Tempat lembap, tumpukan daun | Nyeri dan bengkak setempat |
| Laba-laba tertentu | Sudut gelap, gudang | Nyeri, luka setempat |
| Lebah dan tawon | Sarang di atap dan pohon | Reaksi alergi berat |
Tidak semua ular berbisa, dan tidak semua gigitan ular berbisa memasukkan bisa. Namun, penolong tidak dapat memastikannya di lapangan. Perlakukan setiap gigitan ular sebagai gigitan berbisa.
Apa langkah pertolongan pertama pada gigitan ular?
- Amankan diri dan korban. Menjauh dari ular. Jangan mencoba menangkap atau membunuhnya.
- Tenangkan korban dan minta ia diam. Gerakan dan kepanikan mempercepat penyebaran bisa. Baringkan dalam posisi nyaman.
- Hubungi 119 atau layanan darurat setempat dan siapkan kendaraan ke fasilitas kesehatan.
- Lepaskan cincin, gelang, jam, dan sepatu ketat dari anggota tubuh yang digigit sebelum bengkak.
- Imobilisasi. Pasang bidai pada lengan atau tungkai yang digigit seperti pada patah tulang, sehingga sendi di atas dan di bawah gigitan tidak bergerak. Lengan dapat digendong dengan kain segitiga.
- Jangan biarkan korban berjalan. Angkat dengan tandu atau dibopong ke kendaraan.
- Catat waktu gigitan, ciri ular bila terlihat, dan perkembangan gejala. Tandai batas bengkak dengan pena bila sempat.
- Pantau napas dan kesadaran selama perjalanan. Bila korban tidak merespons dan tidak bernapas normal, mulai RJP.
Sebagian pelatihan mengajarkan pembalutan tekan bersama imobilisasi untuk jenis ular tertentu. Lakukan hanya bila Anda dilatih untuk itu, dan jangan sampai menunda keberangkatan ke fasilitas kesehatan. Cara memasang bidai dijelaskan di artikel pertolongan pertama patah tulang dan cara pembidaian.
Apa yang tidak boleh dilakukan pada gigitan ular?
- Menyayat atau menusuk luka gigitan.
- Mengisap bisa dengan mulut atau alat penyedot.
- Memasang torniket atau ikatan kuat di atas luka.
- Mengompres dengan es atau merendam dalam air panas.
- Mengoleskan ramuan, bahan kimia, atau menempelkan batu penyerap.
- Memijat atau menggosok area gigitan.
- Memberi alkohol, kopi, atau obat atas inisiatif sendiri.
- Menunggu gejala muncul sebelum berangkat ke fasilitas kesehatan.
Semua tindakan itu tidak menghilangkan bisa dan sebagian memperparah kerusakan jaringan.
Bagaimana menangani sengatan kalajengking, lipan, dan laba-laba?
Sebagian besar menimbulkan nyeri dan bengkak setempat:
- Cuci area sengatan dengan air dan sabun.
- Kompres dingin dengan kain pembungkus es untuk mengurangi nyeri. Anjuran ini berlaku untuk sengatan hewan-hewan tersebut, bukan untuk gigitan ular.
- Istirahatkan dan posisikan anggota tubuh dengan nyaman.
- Lepaskan perhiasan di sekitar area yang bengkak.
- Pantau korban.
Bawa ke fasilitas kesehatan bila nyeri sangat hebat atau meluas, muncul kejang otot, mual dan muntah, berkeringat berlebihan, sesak, korban adalah anak kecil atau lansia, atau luka memburuk pada hari berikutnya. Sengatan lebah dan tawon dibahas di artikel first aid disengat lebah dan tawon.
Tanda bahaya apa yang perlu diwaspadai?
Segera cari bantuan medis bila setelah gigitan atau sengatan muncul:
- kelopak mata terasa berat, pandangan ganda, sulit menelan atau berbicara;
- sesak napas atau kelemahan otot;
- perdarahan dari gusi, hidung, atau luka yang tidak berhenti;
- bengkak yang cepat meluas;
- pusing hebat, pingsan, atau tanda syok;
- bentol meluas, bengkak di wajah, dan mengi, yang mengarah ke anafilaksis.
Bagaimana mencegah gigitan di tempat kerja?
- Pakai sepatu bot dan celana panjang di area semak dan lahan terbuka.
- Gunakan sarung tangan saat memindahkan kayu, batu, dan material yang lama tertumpuk.
- Periksa sepatu, helm, dan sarung tangan sebelum dipakai.
- Pakai senter pada malam hari.
- Jaga kebersihan area agar tidak menjadi sarang tikus yang mengundang ular.
- Ketahui fasilitas kesehatan terdekat yang mampu menangani gigitan ular dan cantumkan dalam rencana tanggap darurat.
Skenario gigitan ular dengan rute rujukan yang sebenarnya dapat dilatihkan di lokasi melalui in-house training first aid.
Referensi
- Pedoman penanganan gigitan ular dari World Health Organization (WHO)
- International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines (IFRC)
- Pedoman pertolongan pertama dari American Heart Association dan American Red Cross
- Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja



