Psychological first aid adalah dukungan awal yang manusiawi dan praktis bagi orang yang baru mengalami kejadian berat, misalnya kecelakaan, bencana, atau kehilangan mendadak. Dalam bahasa Indonesia sering disebut pertolongan pertama psikologis atau dukungan psikologis awal, disingkat PFA. PFA bukan terapi dan bukan konseling. Tujuannya membuat orang merasa aman, didengar, dan terhubung dengan bantuan yang ia butuhkan.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan maupun layanan kesehatan jiwa profesional. Bila seseorang berada dalam bahaya, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.

Psychological first aid adalah apa?

Panduan yang paling banyak dirujuk berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan gerakan palang merah. Menurut panduan tersebut, PFA mencakup:

  • memberi perhatian dan dukungan praktis tanpa memaksa;
  • menilai kebutuhan dan kekhawatiran;
  • membantu memenuhi kebutuhan dasar seperti tempat aman, air, dan informasi;
  • mendengarkan tanpa menekan orang untuk bercerita;
  • menenangkan;
  • menghubungkan dengan informasi, layanan, dan dukungan sosial;
  • melindungi dari bahaya lebih lanjut.

Yang bukan PFA:

  • bukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan profesional;
  • bukan konseling atau terapi;
  • bukan meminta orang menceritakan kejadian secara rinci;
  • bukan menganalisis atau menilai apa yang terjadi.

Apa bedanya dengan first aid fisik?

Aspek First aid fisik Psychological first aid
Sasaran Cedera dan sakit mendadak Tekanan emosional setelah kejadian berat
Tindakan Menghentikan perdarahan, RJP, membidai Menenangkan, mendengarkan, menghubungkan
Tujuan Menyelamatkan nyawa dan mencegah cedera memburuk Mengurangi tekanan awal dan memperkuat kemampuan pulih
Batas peran Tidak mendiagnosis dan tidak mengobati Tidak mendiagnosis dan tidak melakukan terapi

Keduanya saling melengkapi. Cedera fisik yang mengancam nyawa selalu ditangani lebih dulu.

Apa prinsip psychological first aid?

Prinsip tindakan yang diajarkan WHO adalah look, listen, link, atau dalam bahasa Indonesia: lihat, dengar, hubungkan.

Look atau lihat

  • Pastikan keamanan lokasi.
  • Lihat siapa yang memiliki kebutuhan dasar mendesak, misalnya cedera atau perlu tempat berlindung.
  • Kenali orang dengan reaksi tekanan berat: sangat gelisah, membeku, bingung, atau tidak merespons.

Listen atau dengar

  • Dekati dengan sopan, perkenalkan diri, dan tanyakan apakah ia bersedia ditemani.
  • Tanyakan kebutuhan dan kekhawatirannya.
  • Dengarkan. Biarkan ia bercerita sebanyak yang ia mau, atau diam bila ia memilih diam.
  • Bantu ia menenangkan diri, misalnya dengan mengajak bernapas perlahan.
  • Bantu memenuhi kebutuhan dasar dan mengakses layanan.
  • Beri informasi yang benar dan jelas, dan katakan terus terang bila Anda tidak tahu.
  • Hubungkan dengan keluarga, teman, atau dukungan sosial lain.
  • Arahkan ke tenaga profesional bila diperlukan.

Sebelum ketiganya, ada tahap persiapan: pahami apa yang terjadi, layanan apa yang tersedia, dan apakah lokasi aman.

Psychological first aid contoh di tempat kerja

Contoh 1: saksi kecelakaan kerja. Seorang operator melihat rekannya terjepit mesin. Korban sudah ditangani tim medis. Operator itu gemetar dan terus berdiri di lokasi. Petugas P3K mengajaknya ke ruang yang tenang, menawarkan air minum, dan duduk di dekatnya. Petugas bertanya apa yang ia butuhkan sekarang. Ia ingin menelepon istrinya, dan petugas membantunya. Atasan diberi tahu agar ia tidak kembali mengoperasikan mesin hari itu. Bagian HR menindaklanjuti dengan informasi layanan dukungan yang tersedia.

Contoh 2: kabar duka. Seorang karyawan menerima kabar anggota keluarganya meninggal. Rekan kerjanya menemaninya ke ruangan tertutup, tidak banyak bicara, membantu mengatur izin dan kendaraan pulang, serta memastikan ia tidak menyetir sendiri.

Contoh 3: setelah gempa atau kebakaran. Di titik kumpul, pengawas memeriksa siapa yang cedera, siapa yang terpisah dari rekan satu tim, dan siapa yang sangat cemas. Ia memberi informasi yang jelas tentang apa yang sudah diketahui dan kapan ada kabar berikutnya.

Kalimat yang membantu dan yang sebaiknya dihindari

Sebaiknya Sebaiknya dihindari
Saya di sini menemani Anda. Kamu harus kuat.
Apa yang paling Anda butuhkan sekarang? Ceritakan semuanya dari awal.
Wajar bila Anda merasa terguncang. Masih untung tidak lebih parah.
Saya belum tahu, akan saya carikan informasinya. Semuanya pasti baik-baik saja.
Tidak apa-apa bila belum ingin bicara. Saya tahu persis perasaan Anda.

Hindari pula menjanjikan hal yang tidak dapat dipenuhi, menyebarkan cerita orang yang ditolong, dan memotret atau merekam.

Kapan harus merujuk ke profesional?

Segera cari bantuan tenaga kesehatan atau layanan darurat bila orang tersebut:

  • mengalami cedera serius atau kondisi medis yang perlu ditangani;
  • berbicara tentang menyakiti diri sendiri atau orang lain;
  • sangat bingung, tidak mengenali tempat dan waktu, atau tidak mampu merawat diri;
  • tidak dapat ditenangkan dalam waktu lama.

Sarankan pula konsultasi ke psikolog, dokter, atau layanan kesehatan jiwa bila dalam beberapa minggu keluhan seperti sulit tidur, mimpi buruk, menghindari tempat kejadian, atau sulit bekerja tidak mereda.

Pelatihan psychological first aid adalah untuk siapa?

Pelatihan psychological first aid adalah pelatihan singkat yang mengajarkan prinsip di atas melalui studi kasus dan bermain peran. Peserta yang paling memperoleh manfaat:

  • petugas P3K dan tim tanggap darurat;
  • supervisor dan manajer lini;
  • HRD dan pengelola layanan karyawan;
  • guru, relawan, dan petugas layanan publik.

Pelatihan PFA biasanya diselenggarakan oleh lembaga yang bergerak di bidang psikologi, kesehatan jiwa, atau kemanusiaan. PFA tidak termasuk syarat lisensi petugas P3K menurut Permenakertrans 15/2008, tetapi menjadi pelengkap yang berguna.

Untuk kebutuhan perusahaan, pengantar dukungan psikologis awal dapat dibicarakan sebagai tambahan saat merancang in-house training first aid. Keterampilan menolong secara fisik tetap dipelajari melalui program seperti basic first aid dan CPR/AED.

Menjaga diri penolong

Penolong juga terpapar kejadian berat. Setelah bertugas:

  • bicarakan pengalaman Anda dengan rekan atau atasan yang dipercaya;
  • beri waktu istirahat, makan, dan tidur yang cukup;
  • kenali tanda kelelahan pada diri sendiri;
  • minta bantuan profesional bila keluhan menetap.

Perusahaan sebaiknya memasukkan dukungan bagi penolong ke dalam prosedur tanggap darurat, sama seperti evaluasi teknis setelah kejadian. Dasar penilaian korban secara fisik dapat dibaca di artikel langkah DRSABC.

Referensi

  • Psychological First Aid: Guide for Field Workers (World Health Organization, War Trauma Foundation, dan World Vision International)
  • A Guide to Psychological First Aid (IFRC Reference Centre for Psychosocial Support)
  • International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines (IFRC)
  • Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja