DRSABC adalah urutan penilaian awal korban yang diajarkan dalam pelatihan first aid: Danger (bahaya), Response (respons), Send for help (panggil bantuan), Airway (jalan napas), Breathing (pernapasan), dan CPR (resusitasi jantung paru). Urutan ini membantu penolong bertindak sistematis saat panik dan memastikan masalah yang paling mengancam nyawa ditangani lebih dulu.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan langsung maupun nasihat medis. Dalam keadaan darurat, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.

Mengapa perlu urutan baku?

Saat melihat rekan kerja tergeletak, reaksi alami adalah berlari mendekat dan mengguncang tubuhnya. Reaksi itu bisa berbahaya bila korban tersengat listrik, berada di ruang dengan gas beracun, atau mengalami cedera tulang belakang. Urutan baku memaksa penolong berhenti sejenak, melihat sekeliling, lalu bertindak sesuai prioritas.

Urutan baku juga memudahkan kerja tim. Semua orang yang pernah dilatih memahami langkah yang sama, sehingga pembagian tugas berlangsung cepat.

D: Danger, apakah lokasi aman?

Sebelum mendekat, periksa bahaya bagi diri sendiri, orang sekitar, dan korban:

  • listrik yang masih mengalir, kabel terkelupas, genangan air;
  • mesin yang masih berputar atau kendaraan yang lalu lalang;
  • api, asap, gas, atau tumpahan bahan kimia;
  • benda yang berisiko jatuh atau struktur yang tidak stabil;
  • ruang terbatas dengan kemungkinan kekurangan oksigen.

Bila ada bahaya, hilangkan sumbernya lebih dulu bila dapat dilakukan dengan aman, misalnya mematikan listrik atau menghentikan mesin. Bila tidak aman, jangan masuk. Panggil tim yang berwenang. Gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan bila tersedia.

R: Response, apakah korban merespons?

Periksa kesadaran dengan cara:

  1. Panggil korban dengan suara keras, misalnya menanyakan nama atau memintanya membuka mata.
  2. Tepuk atau tekan bahunya dengan mantap. Jangan mengguncang kepala atau leher.

Bila korban merespons, tanyakan apa yang terjadi, periksa cedera, dan biarkan ia dalam posisi yang ditemukannya selama tidak berbahaya. Bila tidak ada respons, lanjut ke langkah berikutnya.

Sebagian pelatihan memakai skala sederhana AVPU untuk menggambarkan tingkat respons:

Huruf Arti
A (Alert) Sadar penuh
V (Voice) Merespons suara
P (Pain) Hanya merespons rangsang nyeri
U (Unresponsive) Tidak merespons

S: Send for help, panggil bantuan

Bila korban tidak merespons, segera minta bantuan. Jangan menunda sampai pemeriksaan selesai.

  • Teriak minta tolong kepada orang di sekitar.
  • Tunjuk satu orang secara spesifik untuk menelepon 119 atau layanan darurat setempat serta nomor darurat internal perusahaan.
  • Minta orang lain mengambil AED dan kotak P3K.
  • Bila sendirian, gunakan pengeras suara ponsel agar tangan tetap bebas.

Informasi yang perlu disampaikan saat menelepon:

  • lokasi kejadian yang jelas, termasuk patokan dan pintu masuk;
  • apa yang terjadi;
  • jumlah korban dan kondisinya (sadar atau tidak, bernapas atau tidak);
  • pertolongan yang sudah diberikan;
  • nama dan nomor telepon penelepon.

Jangan menutup telepon sebelum petugas mengizinkan.

A: Airway, apakah jalan napas terbuka?

Pada korban tidak sadar, lidah dapat jatuh ke belakang dan menyumbat jalan napas. Langkahnya:

  1. Baringkan korban telentang di permukaan yang rata dan keras bila memungkinkan.
  2. Buka mulut dan lihat apakah ada benda yang tampak jelas, misalnya makanan atau muntahan. Bila ada benda yang terlihat dan mudah dijangkau, keluarkan dengan hati-hati. Jangan mengorek mulut secara membabi buta.
  3. Buka jalan napas dengan menengadahkan kepala dan mengangkat dagu (head tilt, chin lift): satu tangan di dahi, dua jari tangan lain mengangkat ujung dagu.

Bila ada dugaan cedera leher atau tulang belakang, misalnya korban jatuh dari ketinggian, gerakkan kepala seminimal mungkin. Teknik khusus seperti jaw thrust dipelajari dalam pelatihan. Namun, membuka jalan napas tetap menjadi prioritas karena korban yang tidak bisa bernapas tidak akan bertahan.

B: Breathing, apakah korban bernapas normal?

Dengan jalan napas tetap terbuka, periksa napas tidak lebih dari sekitar 10 detik dengan cara:

  • lihat gerakan naik turun dada;
  • dengar suara napas dari mulut dan hidung;
  • rasakan hembusan napas di pipi.

Napas yang sesekali, tersengal, atau seperti mendengkur berat (gasping) bukan napas normal. Kondisi itu sering muncul pada menit awal henti jantung dan harus diperlakukan sebagai tidak bernapas.

Hasil pemeriksaan menentukan tindakan:

Kondisi Tindakan
Tidak sadar, bernapas normal Posisi pemulihan, pantau napas, tunggu bantuan
Tidak sadar, tidak bernapas atau napas tidak normal Mulai RJP, minta AED

Cara memiringkan korban dijelaskan di artikel posisi pemulihan.

C: CPR, mulai resusitasi jantung paru

Bila korban tidak bernapas normal, segera mulai kompresi dada. Untuk korban dewasa:

  • letakkan tumit tangan di tengah dada, tangan lain di atasnya;
  • tekan sedalam sekitar 5 sampai 6 cm dengan kecepatan 100 sampai 120 kali per menit;
  • bila terlatih, berikan 2 napas bantuan setiap 30 kompresi;
  • bila tidak terlatih atau tidak bersedia memberi napas bantuan, lakukan kompresi dada terus-menerus.

Panduan lengkapnya ada di artikel cara melakukan RJP/CPR untuk awam. Sebagian pelatihan memakai singkatan DRCAB atau DRABC; perbandingannya dibahas di artikel beda DRCAB dengan DRABC.

D tambahan: Defibrillation

Banyak pedoman menambahkan huruf D kedua, yaitu defibrilasi. Begitu AED tiba, nyalakan dan ikuti perintah suaranya. Jangan menunda pemasangan AED untuk menyelesaikan siklus RJP. Langkahnya dijelaskan dalam cara menggunakan AED.

Setelah DRSABC: pemeriksaan lanjutan

Bila korban bernapas dan ancaman nyawa sudah tertangani, lanjutkan dengan:

  • mencari dan menghentikan perdarahan hebat;
  • memeriksa tubuh dari kepala sampai kaki untuk mencari luka, bengkak, atau perubahan bentuk;
  • menanyakan riwayat singkat bila korban sadar: keluhan, alergi, obat yang diminum, penyakit, makan terakhir, dan kejadian sebelum insiden;
  • menjaga korban tetap hangat dan tenang;
  • memantau kesadaran dan napas secara berkala sampai bantuan tiba.

Catat waktu kejadian dan tindakan yang dilakukan. Catatan ini berguna bagi tenaga medis dan untuk buku kegiatan P3K.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Langsung menyentuh korban sengatan listrik sebelum arus dimatikan.
  • Meminta bantuan dengan kalimat umum sehingga tidak ada yang merasa ditunjuk.
  • Menganggap napas tersengal sebagai tanda korban masih bernapas.
  • Memeriksa terlalu lama sebelum memulai RJP.
  • Memberi minum kepada korban yang tidak sadar atau setengah sadar.
  • Memindahkan korban jatuh tanpa alasan mendesak.

Urutan DRSABC paling mudah diingat setelah dipraktikkan berulang kali dengan skenario. Kelas basic first aid dan CPR/AED memberi kesempatan itu dalam satu hari.

Referensi

  • Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja
  • Pedoman pertolongan pertama dan resusitasi dari organisasi internasional (ILCOR, AHA, ERC, ANZCOR)
  • International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines (IFRC)