Teknik jaw thrust adalah cara membuka jalan napas dengan mendorong rahang bawah korban ke depan tanpa menengadahkan kepalanya. Teknik ini dipakai penolong terlatih ketika korban tidak sadar dan diduga mengalami cedera leher atau patah tulang belakang, misalnya setelah jatuh dari ketinggian. Tujuannya membebaskan jalan napas sambil menjaga gerakan leher sekecil mungkin.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan langsung maupun nasihat medis. Dalam keadaan darurat, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.

Kapan cedera tulang belakang perlu dicurigai?

Curigai cedera tulang belakang bila korban:

  • jatuh dari ketinggian atau tertimpa benda berat;
  • mengalami kecelakaan kendaraan, termasuk forklift;
  • terjun atau terbentur di air dangkal;
  • mengalami benturan keras di kepala, leher, atau punggung;
  • mengeluh nyeri leher atau punggung, kesemutan, mati rasa, atau tidak dapat menggerakkan tangan dan kaki;
  • tidak sadar setelah kejadian yang melibatkan benturan.

Bila ragu, anggap ada cedera tulang belakang.

Apa aturan dasar pada dugaan cedera tulang belakang?

  1. Jangan memindahkan korban kecuali ada bahaya seperti api, gas, risiko runtuh, atau air.
  2. Minta korban yang sadar untuk tidak menggerakkan kepala. Jawaban cukup dengan suara, bukan anggukan.
  3. Hubungi 119 atau layanan darurat setempat sejak awal.
  4. Tahan kepala korban dengan kedua tangan dalam posisi saat ditemukan, tanpa menarik atau memutar.
  5. Jangan melepas helm kecuali menghalangi pertolongan napas dan Anda terlatih melakukannya.
  6. Jangan memberi makan atau minum.

Korban yang sadar dan bernapas baik tidak memerlukan jaw thrust. Cukup dijaga agar tidak bergerak sampai tenaga medis tiba.

Bagaimana langkah teknik jaw thrust?

Teknik ini dilakukan pada korban tidak sadar yang telentang:

  1. Berlutut di sisi kepala korban, menghadap ke arah kakinya.
  2. Letakkan kedua siku di lantai agar tangan stabil.
  3. Tempatkan telapak tangan di kedua sisi wajah korban, ibu jari di tulang pipi.
  4. Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di sudut rahang bawah, di bawah telinga.
  5. Dorong rahang bawah ke depan dan ke atas dengan kedua tangan, tanpa menengadahkan atau memutar kepala.
  6. Bila bibir tertutup, buka bibir bawah dengan ibu jari.
  7. Pertahankan posisi ini sambil menilai napas: lihat gerakan dada, dengar, dan rasakan hembusan napas, tidak lebih dari sekitar 10 detik.

Dorongan pada rahang mengangkat lidah dari dinding belakang tenggorokan, sehingga udara dapat lewat.

Apa beda jaw thrust dengan head tilt dan chin lift?

Aspek Head tilt, chin lift Jaw thrust
Gerakan Kepala ditengadahkan, dagu diangkat Rahang bawah didorong ke depan, kepala tidak ditengadahkan
Posisi penolong Di samping korban Di sisi kepala korban
Dipakai pada Korban tanpa dugaan cedera tulang belakang Dugaan cedera leher atau tulang belakang
Tingkat kesulitan Mudah dipelajari Lebih sulit, melelahkan, perlu latihan
Diajarkan kepada Semua penolong Penolong terlatih dan tenaga kesehatan

Bagaimana bila korban tidak bernapas?

Jalan napas dan pernapasan lebih diutamakan daripada kekhawatiran akan cedera tulang belakang.

  • Bila jalan napas tidak terbuka dengan jaw thrust, gunakan head tilt dan chin lift dengan gerakan sekecil yang diperlukan.
  • Bila korban tidak merespons dan tidak bernapas normal, mulai RJP. Kompresi dada tidak boleh ditunda.
  • Dengan dua penolong, satu orang menahan kepala dan rahang, yang lain melakukan kompresi. Napas bantuan dengan jaw thrust paling mudah diberikan memakai pocket mask.
  • Bila korban bernapas tetapi muntah atau jalan napasnya terancam dan Anda harus meninggalkannya untuk mencari bantuan, miringkan korban dengan menjaga kepala, leher, dan badan tetap segaris. Idealnya dilakukan beberapa penolong dengan satu pemberi aba-aba.

Kesalahan yang perlu dihindari

  • Menengadahkan kepala saat mendorong rahang.
  • Menekan jaringan lunak di bawah dagu sehingga jalan napas justru menyempit.
  • Mengangkat atau mendudukkan korban jatuh untuk diberi minum.
  • Memindahkan korban ke ruang P3K sebelum tenaga medis menilai.
  • Menunda RJP karena takut memperparah cedera.
  • Mencoba jaw thrust untuk pertama kali pada kejadian nyata tanpa pernah berlatih.

Di mana teknik ini dilatih?

Jaw thrust dipraktikkan dengan manekin dalam pelatihan Basic Life Support (BLS) dan dikenalkan dalam pelatihan petugas P3K. Cara memindahkan korban dengan dugaan cedera tulang belakang dibahas di artikel evakuasi dan pemindahan korban, sedangkan urutan penilaian korban ada di artikel langkah DRSABC.

Referensi

  • Pedoman bantuan hidup dasar dari American Heart Association (AHA) dan European Resuscitation Council (ERC)
  • International First Aid, Resuscitation and Education Guidelines (IFRC)
  • Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja