First aid dan P3K pada dasarnya menunjuk hal yang sama, yaitu pertolongan pertama pada orang yang cedera atau sakit mendadak. BLS lebih sempit: bantuan hidup dasar untuk korban henti jantung atau henti napas. Yang membedakan pelatihan first aid, pelatihan petugas P3K, dan pelatihan BLS adalah cakupan, kedalaman, dan pengakuan sertifikatnya.
Apa itu first aid?
First aid adalah istilah umum untuk pertolongan pertama. Cakupannya luas, mulai dari menilai korban, RJP, perdarahan, luka bakar, patah tulang, tersedak, pingsan, sampai keracunan. Pelatihan first aid ditawarkan dalam berbagai tingkat, dari kelas pengenalan beberapa jam sampai program beberapa hari.
Di Indonesia, kelas bertajuk basic first aid umumnya bersifat non-lisensi. Peserta menerima sertifikat dari penyelenggara sebagai bukti telah mengikuti pelatihan. Contohnya program basic first aid dan CPR/AED.
Apa itu P3K di tempat kerja?
P3K adalah singkatan dari Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Dari sisi isi, P3K adalah first aid. Bedanya, istilah P3K di tempat kerja terikat pada kerangka hukum, yaitu Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008. Peraturan ini mewajibkan pengusaha menyediakan petugas P3K yang memiliki lisensi dan buku kegiatan, serta fasilitas P3K.
Karena itu, bila sebuah iklan menyebut pelatihan petugas P3K sertifikasi Kemnaker RI, yang dimaksud adalah pelatihan first aid dengan kurikulum sesuai pedoman pemerintah dan berujung pada lisensi petugas. Durasinya umumnya 3 hari. Syaratnya dijelaskan dalam artikel syarat dan cara menjadi petugas P3K berlisensi.
Apa itu BLS?
Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah rangkaian tindakan untuk mempertahankan sirkulasi dan pernapasan pada korban yang jantungnya berhenti atau tidak bernapas normal. Intinya:
- mengenali henti jantung dan memanggil bantuan;
- kompresi dada berkualitas dan napas bantuan;
- penggunaan AED;
- penanganan sumbatan jalan napas.
BLS tidak membahas luka bakar atau patah tulang. Sebagai gantinya, RJP dilatih jauh lebih dalam, termasuk RJP dua penolong dan pergantian peran. Ada kelas BLS untuk tenaga kesehatan dan ada pula versi untuk awam atau karyawan, seperti pelatihan Basic Life Support untuk karyawan.
Perbandingan first aid, P3K, dan BLS
| Aspek | Basic first aid | Petugas P3K (Kemnaker RI) | BLS |
|---|---|---|---|
| Cakupan | Luas, tingkat dasar | Luas dan lebih mendalam, termasuk regulasi dan fasilitas P3K | Sempit, fokus henti jantung dan jalan napas |
| Durasi umum | 1 hari | Umumnya 3 hari | Umumnya 1 hari |
| Dokumen yang diperoleh | Sertifikat pelatihan | Sertifikat dan lisensi petugas P3K | Sertifikat pelatihan |
| Memenuhi kewajiban petugas P3K berlisensi | Tidak | Ya | Tidak |
| Peserta | Karyawan umum, perorangan | Pekerja yang ditunjuk perusahaan | Tim tanggap darurat, karyawan, tenaga kesehatan |
| Masa berlaku | Mengikuti kebijakan penyelenggara | Lisensi 3 tahun, dapat diperpanjang | Mengikuti kebijakan penyelenggara |
Di mana letak tumpang tindihnya?
Ketiganya sama-sama mengajarkan RJP dan pengenalan AED. Perbedaannya pada porsi:
- Di kelas basic first aid, RJP adalah salah satu dari banyak topik.
- Di pelatihan petugas P3K, RJP adalah satu modul di antara anatomi, perdarahan, luka bakar, patah tulang, keracunan, evakuasi, dan regulasi.
- Di kelas BLS, hampir seluruh waktu dipakai untuk RJP, AED, dan jalan napas.
Jadi petugas P3K berlisensi sudah mempelajari dasar BLS, tetapi tetap mendapat manfaat dari kelas BLS sebagai penyegaran karena keterampilan RJP menurun bila tidak dilatih.
Bagaimana memilih pelatihan yang tepat?
Mulailah dari tujuan, bukan dari nama kelasnya.
Tujuan: memenuhi kewajiban regulasi. Pilih pelatihan petugas P3K sertifikasi Kemnaker RI. Hitung jumlah petugas menurut jumlah pekerja, potensi bahaya, shift, dan sebaran lokasi. Panduannya ada di artikel rasio jumlah petugas P3K.
Tujuan: membekali sebanyak mungkin karyawan. Pilih basic first aid dan CPR/AED. Satu hari, biaya per orang lebih ringan, dan tidak memerlukan dokumen persyaratan lisensi.
Tujuan: memastikan AED di gedung benar-benar bisa dipakai. Pilih BLS untuk tim tanggap darurat, petugas keamanan, dan resepsionis.
Tujuan: latihan sesuai risiko khas lokasi. Pilih in-house training first aid agar skenarionya dapat disesuaikan, misalnya paparan bahan kimia atau sengatan listrik.
Contoh kombinasi untuk beberapa jenis tempat kerja
| Jenis tempat kerja | Kombinasi yang lazim dipertimbangkan |
|---|---|
| Kantor 200 karyawan, risiko rendah | Petugas P3K berlisensi sesuai rasio, ditambah basic first aid untuk perwakilan tiap lantai |
| Pabrik dengan tiga shift | Petugas P3K berlisensi di setiap shift, BLS untuk tim tanggap darurat |
| Proyek konstruksi | Petugas P3K berlisensi di tiap area kerja, in-house training dengan skenario jatuh dan terjepit |
| Gudang bahan kimia | Petugas P3K berlisensi, modul tambahan paparan bahan kimia dan penggunaan pembilas mata |
Tabel di atas hanya ilustrasi. Kebutuhan sebenarnya ditentukan oleh penilaian risiko dan ketentuan peraturan.
Kesalahpahaman yang sering muncul
- Sertifikat first aid dianggap otomatis lisensi. Lisensi petugas P3K hanya diperoleh lewat jalur pelatihan dan pengajuan yang ditetapkan.
- BLS dianggap hanya untuk perawat. Penolong awam justru yang paling sering berada di dekat korban pada menit pertama.
- Petugas P3K dianggap tidak perlu latihan lagi. Lisensi berlaku 3 tahun, tetapi keterampilan perlu disegarkan lebih sering.
- Satu jenis pelatihan dianggap cukup untuk semua orang. Kebutuhan petugas, tim tanggap darurat, dan karyawan umum berbeda.
Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pelatihan langsung maupun nasihat tenaga medis.
Bila Anda juga membandingkan jalur sertifikat, lihat sertifikasi first aid BNSP vs lisensi Kemnaker dan pelatihan first aid PMI atau petugas P3K Kemnaker.
Referensi
- Permenakertrans No. PER.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja
- UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
- Pedoman bantuan hidup dasar dari organisasi resusitasi internasional (AHA, ERC)


