CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dan RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah dua nama untuk tindakan yang sama: kompresi dada, dengan atau tanpa napas bantuan, pada korban yang tidak merespons dan tidak bernapas normal. CPR adalah istilah bahasa Inggris, RJP padanannya dalam bahasa Indonesia. Tujuannya menjaga aliran darah beroksigen ke otak dan jantung sampai AED dan tenaga medis tersedia.
Catatan: artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti pelatihan langsung maupun nasihat medis. Dalam keadaan darurat, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat.
Apa arti CPR dan RJP?
| Istilah | Kepanjangan | Bahasa | Arti |
|---|---|---|---|
| CPR | Cardiopulmonary Resuscitation | Inggris | Resusitasi jantung dan paru |
| RJP | Resusitasi Jantung Paru | Indonesia | Terjemahan langsung CPR |
Dalam pelatihan di Indonesia, kedua istilah dipakai bergantian. Modul berbahasa Inggris dan sertifikat lembaga internasional umumnya menulis CPR, sedangkan materi berbahasa Indonesia menulis RJP. Tidak ada perbedaan teknik di antara keduanya.
Apa tujuan CPR atau RJP?
Saat jantung berhenti memompa, otak mulai mengalami kerusakan dalam beberapa menit. CPR tidak dimaksudkan menggantikan pertolongan medis. Fungsinya:
- mengalirkan darah secara manual ke otak dan jantung melalui kompresi dada;
- memasukkan oksigen melalui napas bantuan bila penolong terlatih;
- memperpanjang waktu sampai defibrilasi dapat dilakukan;
- meningkatkan kemungkinan kejut listrik dari AED berhasil.
Karena itu CPR selalu dipasangkan dengan dua hal lain: memanggil bantuan sejak awal dan memakai AED sesegera mungkin.
Apa saja komponen CPR?
Kompresi dada. Penolong menekan tengah dada korban secara berirama. Untuk korban dewasa, pedoman yang diterima luas menyebut kecepatan 100 sampai 120 kali per menit dengan kedalaman sekitar 5 sampai 6 cm, dan dada dibiarkan kembali penuh setelah setiap tekanan.
Napas bantuan. Penolong terlatih memberi 2 napas setelah setiap 30 kompresi. Inilah yang sering disebut 30 kali tekan dan 2 kali tiup.
Defibrilasi. Bukan bagian dari CPR itu sendiri, tetapi tidak terpisahkan dari rangkaian pertolongan. AED menganalisis irama jantung dan memberi kejut bila diperlukan.
Bagi penolong awam yang tidak terlatih, CPR hanya kompresi (hands-only CPR) pada korban dewasa tetap dianjurkan dibanding tidak melakukan apa-apa.
Kapan CPR dilakukan dan kapan tidak?
CPR dilakukan bila korban:
- tidak merespons ketika dipanggil dan ditepuk; dan
- tidak bernapas atau hanya bernapas tersengal sesekali.
CPR tidak dilakukan pada orang yang sadar, yang bernapas normal, atau yang hanya pingsan sebentar lalu pulih. Korban tidak sadar yang bernapas normal dibaringkan dalam posisi pemulihan dan dipantau.
Jangan berlatih kompresi dada pada orang sungguhan. Latihan hanya memakai manekin.
Apa hubungan CPR dengan BHD, BLS, dan AED?
Beberapa istilah sering muncul bersamaan dan membingungkan:
| Istilah | Arti | Hubungan dengan CPR/RJP |
|---|---|---|
| BLS (Basic Life Support) | Bantuan hidup dasar | Paket keterampilan yang mencakup CPR, AED, dan penanganan sumbatan jalan napas |
| BHD (Bantuan Hidup Dasar) | Padanan Indonesia untuk BLS | Sama dengan BLS |
| AED | Automated External Defibrillator | Alat kejut jantung otomatis yang dipakai bersama CPR |
| DRCAB, DRSABC | Singkatan urutan penilaian korban | Menunjukkan kapan CPR dimulai |
| First aid, P3K | Pertolongan pertama secara umum | CPR adalah salah satu materinya |
Jadi, CPR adalah satu keterampilan; BLS adalah paket yang memuatnya; first aid atau P3K adalah payung yang lebih luas lagi. Perbandingannya dibahas di artikel perbedaan first aid, P3K, dan BLS.
Kesalahpahaman yang sering muncul tentang CPR
- CPR dan RJP dianggap dua teknik berbeda. Keduanya sama.
- CPR dianggap hanya untuk tenaga medis. Justru orang di sekitar korban yang menentukan pada menit pertama.
- Takut mematahkan rusuk. Risiko itu ada, tetapi tanpa CPR korban henti jantung tidak akan selamat.
- Menunggu ambulans. Menunda kompresi adalah kesalahan paling merugikan.
- Merasa cukup dengan menonton video. Kedalaman dan irama kompresi hanya dapat dirasakan lewat latihan dengan manekin.
Bagaimana mempelajari CPR dengan benar?
Pilih kelas yang memberi waktu praktik cukup, manekin dengan jumlah memadai, dan latihan AED. Langkah tekniknya dapat dibaca lebih dulu di artikel cara melakukan RJP/CPR untuk awam. Untuk karyawan umum, kelas basic first aid dan CPR/AED biasanya sudah memadai; tim tanggap darurat dapat mengambil pelatihan Basic Life Support (BLS).
Referensi
- Pedoman resusitasi jantung paru dan bantuan hidup dasar dari American Heart Association (AHA)
- Pedoman bantuan hidup dasar dari European Resuscitation Council (ERC)
- Konsensus ILCOR tentang resusitasi dan pertolongan pertama

